Skip to Content
Loading...
Admin
Admin
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

SENJA DI LERENG SUMBING

 


Angin sore di Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Magelang, selalu membawa aroma khas campuran tanah basah, tanaman bawang segar, dan udara dingin yang menusuk. Bagi Aisha, pelukis muda yang melarikan diri dari keramaian kota, tempat yang dijuluki “Nepal van Java” ini adalah surga nyata. Sawah bertingkat yang hijau melandai seperti tangga menuju langit, di belakangnya berdiri megah Gunung Sumbing dengan puncaknya yang sering tertutup awan.

Aisha menghela napas panjang, berusaha menstabilkan tangannya yang mulai gemetar karena dingin. Di depannya, kanvas putih mulai dipenuhi gradasi warna jingga dan ungu.

”Sedikit lagi,” gumamnya pada diri sendiri.

Namun, konsentrasinya terpecah saat ia melihat sebuah bayangan bergerak di sudut matanya. Di atas batu besar yang menonjol di tengah ladang bawang, duduk seorang gadis. Gadis itu mengenakan kebaya kutu baru hijau muda dengan kain jarik yang tersampir anggun. Penampilannya sangat berbeda dengan para petani yang biasanya mengenakan kaos lusuh dan topi caping.

”Permisi,” sapa Aisha, suaranya sedikit meninggi agar terdengar di tengah desau angin.

Gadis itu menoleh. Wajahnya tidak pucat, melainkan teduh dengan mata yang jernih. “Bagus, bukan? Sumbing saat senja selalu mengirim salam melalui kabut,” kata gadis itu sebelum Aisha sempat bertanya. Suaranya lembut, mirip suaranya aliran air.

Aisha meletakkan kuasnya dan mendekat. “Indah sekali. Saya sudah dua jam di sini, tapi rasanya warna langit berubah setiap menit. Kamu penduduk sini?”

Gadis itu tersenyum tipis, memperlihatkan lesung pipitnya. “Panggil saja aku Aurora. Aku... penjaga cerita di sini.”

”Penjaga cerita?” Aisha mengernyit, tetapi ia tetap duduk di rumput dekat batu besar itu. “Nama yang unik untuk tempat se tradisional ini.”

”Nama hanyalah sebutan, Aisha,” balas Aurora. Ia tahu nama Aisha meski sang pelukis belum memperkenalkannya. Aurora menunjuk ke arah lembah yang mulai gelap. “Apakah kamu mencium bau bunga kantil?”

Aisha mengendus udara. “Belum. Hanya bau tanah dan bawang. Kenapa?”

”Orang tua di sini bilang, jika bau kantil lebih kuat dari bau tanah, itu tandanya bidadari sedang turun untuk membasuh muka di sendang. Mereka memuliakan bumi dengan membiarkan alam tetap sunyi,” jelas Aurora sambil menatap puncak Sumbing yang kini berwarna emas gelap.

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari arah jalan setapak. Seorang lelaki tua dengan punggung sedikit membungkuk muncul sambil memikul keranjang bambu kosong. Ia adalah Pak Darmo, salah satu sesepuh desa.

”Nduk Aisha, kok belum pulang? Wes meh maghrib,” tegur Pak Darmo ramah.

”Sebentar lagi, Pak. Ini sedang asyik mengobrol dengan Aurora,” jawab Aisha sambil menunjuk ke arah batu besar.

Pak Darmo menghentikan langkahnya. Ia menatap batu besar yang kosong itu dengan tatapan sulit diartikan. Kerutan di dahinya semakin dalam. “Aurora? Siapa? Di situ hanya ada batu, Nduk.”

Aisha terkejut dan menoleh cepat. Aurora masih di sana, duduk tegak sambil tersenyum ke arah Pak Darmo. “Loh, ini Pak, di depan saya. Gadis yang pakai kebaya hijau.”

Pak Darmo terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. Ia melepas capingnya sejenak. “Nduk, kalau sudah mencium bau wangi yang aneh, segera bereskan catmu. Gunung ini punya cara sendiri untuk menyapa tamunya. Jangan terlalu lama melamun.”

Tanpa membantah atau mengiyakan sosok Aurora, Pak Darmo melanjutkan langkahnya sambil bergumam pelan, “Hijau muda... persis seperti cerita simbah dulu.”

Setelah Pak Darmo menjauh, suasana menjadi lebih dingin. Kabut mulai turun dari puncak, perlahan-lahan menutupi ladang-ladang bawang.

“Dia tidak bisa melihatku?” tanya Aisha dengan suara bergetar.

Aurora berdiri, kebayanya tidak tertiup angin meski udara sedang kencang. “Hanya hati yang sedang mencari yang bisa melihat. Aisha, jangan lupa, keindahan Magelang bukan hanya pada megahnya Candi Borobudur atau ramainya kota. Namun, pada mereka yang menjaga hatinya tetap bersih dan menghargai sunyi di lereng ini.”

”Tunggu, Aurora! Kamu mau ke mana?” seru Aisha saat melihat sosok itu mulai berjalan menembus kabut menuju arah puncak yang curam.

”Pulang. Salamku untuk kanvasmu,” ucap Aurora tanpa menoleh.

Aisha berkedip hanya sekali. Namun, saat matanya terbuka kembali, sosok berkebaya hijau itu telah menghilang. Ia berlari kecil menuju batu besar tempat Aurora duduk tadi. Tanah di sekitar batu itu basah karena sisa hujan, tetapi tidak ada jejak kaki. Tidak ada satu daun bawang pun yang terinjak.

Hanya satu hal yang tertinggal, aroma bunga kantil yang sangat kuat, manis, dan sedikit mistis, menusuk indra penciumannya di tengah kegelapan yang mulai turun.

Dengan tangan gemetar, Aisha kembali ke kanvasnya. Di sana, di tengah lukisan pemandangan Sumbing yang belum selesai, secara ajaib telah terlukis sosok gadis kecil berkebaya hijau muda yang sedang menatap senja.

Aisha tersenyum meski bulu kuduknya berdiri. Magelang baru saja memberinya lebih dari sekadar inspirasi ia baru saja diberi sebuah rahasia. Ia segera mengemas alat lukisnya, membawa pulang “kehadiran” Aurora dalam sebuah karya terbaik yang pernah ia buat. (Aulia)

Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?