Skip to Content
Loading...
Admin
Admin
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Jejak Batu di Puncak Tidar



Di lereng Gunung Tidar, Magelang, hiduplah seorang pemuda bernama Bima. Ia bertubuh tinggi tegap, kulitnya sawo matang terbakar matahari, dan otot-otot di lengannya terlihat kokoh. Rambutnya hitam legam, sedikit bergelombang dan sering kali tampak berantakan ditiup angin, namun justru menambah kesan gagah. Matanya tajam dan berkilat, seolah selalu penuh dengan rasa ingin tahu dan sedikit keberanian yang berlebihan.

“Gunung ini hanya tumpukan batu dan tanah, Kek. Tidak ada yang mistis atau ajaib,” ujar Bima suatu hari sambil memainkan ponselnya.

Di hadapannya duduk seorang lelaki tua, Kakek Wijaya. Tubuhnya bungkuk namun matanya masih sangat tajam. Wajahnya penuh keriput seperti peta sejarah.

“Jangan bicara begitu, Bima,” jawab Kakek Wijaya dengan suara berat dan tenang. “Gunung Tidar itu ibarat sauh kapal yang menahan bumi Jawa agar tidak goyang. Di sana tersimpan kekuatan batin dan keteguhan hati para leluhur.”

Bima tertawa kecil, “Ah, Kakek selalu saja begitu. Zaman sekarang orang butuh bukti, bukan dongeng. Aku mendaki ke sana hanya untuk foto dan konten media sosial, bukan untuk bertapa.

Beberapa hari kemudian, Bima memutuskan mendaki sendirian. Ia ingin membuktikan bahwa tidak ada hal aneh di sana. Namun, saat hampir sampai di puncak, langit mendadak gelap. Kabut tebal turun dengan cepat, menyelimuti segala sesuatu. Suasana berubah menjadi hening dan mencekam.

“Waduh, kok jadi begini,” gumam Bima panik. Ia mencoba melihat peta di ponselnya, namun sinyal hilang. Ia berjalan mencoba mencari jalan turun, tapi justru semakin tersesat. Ia tiba di sebuah area dengan batu-batu besar yang tersusun rapi, tempat yang jarang didatangi orang.

Tiba-tiba, angin berhembus kencang. Suara gemuruh halus terdengar dari dalam tanah.

“Siapa yang berani menginjak tanah suci ini tanpa rasa hormat?” terdengar suara bergema, bukan dari mulut orang, melainkan seolah keluar dari bebatuan.

Bima melangkah mundur, jantungnya berdegup kencang. “S-siapa itu?!” teriaknya berusaha menutupi rasa takut. “Aku hanya lewat! Ini kan tempat umum!”

“Tempat ini bukan sekadar umum, Nak. Ini adalah tempat para ksatria menempa diri. Kau datang dengan sepatu mencolok, kamera berisik, dan hati yang sombong. Kau melihat kami sebagai objek, bukan sebagai leluhur,” sahut suara itu lagi.

“Aku... aku hanya ingin tahu!” bantah Bima. “Dunia sudah maju! Kenapa harus terikat hal-hal lama?!”

“Karena tanpa akar, pohon tidak akan tumbuh tinggi!” bentak suara itu. “Lihatlah sekelilingmu! Batu-batu ini diam, tapi mereka menahan gunung ini agar tidak runtuh. Begitu pula budaya. Kau boleh modern, tapi jika kau melupakan siapa dirimu, kau akan hilang tertiup angin zaman!”

Hujan mulai turun membasahi tubuh Bima. Dingin menusuk tulang. Ia terdiam, matanya yang tadinya tajam kini terlihat berkaca-kaca dan penuh ketakutan.

“Apa yang harus aku lakukan...?” bisik Bima lemah untuk pertama kalinya.

“Turunkan egomu, Bima. Rasakan tanah di bawah kakimu. Dengarkan bisikan angin. Mereka bukan menakutimu, mereka mengujimu,” jawab suara itu kini lebih lembut.

Bima akhirnya duduk bersila di atas sebuah batu datar. Ia memejamkan mata. Perlahan, rasa takut itu hilang, digantikan perasaan tenang yang luar biasa. Ia membayangkan para pendekar masa lalu yang duduk di tempat yang sama, berdoa untuk keselamatan negeri.

“Maafkan aku...,” ucap Bima lirih. “Aku tidak bermaksud tidak hormat. Aku hanya belum mengerti.”

Beberapa saat berlalu. Kabut perlahan menipis. Sinar matahari tembus menyelinap di antara awan.

“Kau sudah mengerti sekarang, Bima?” tanya suara itu lagi.

Bima mengangguk pelan, “Ya. Gunung ini kuat karena diam dan kokoh. Aku harus seperti itu juga. Punya akar yang kuat, tapi tetap bisa menjulang tinggi.”

“Bagus. Sekarang pulanglah. Dan ceritakan pada teman-temanmu, bahwa keajaiban ada bukan untuk ditakuti, tapi untuk dihormati.”

Bima berdiri. Kakinya terasa lebih kuat. Ia berjalan turun dengan hati yang lapang. Sesampainya di rumah, Kakek Wijaya sudah menunggu di teras.

“Kau terlihat berbeda, Cucuku,” kata Kakek tersenyum.

Bima mendekat, lalu memegang tangan Kakek. “Ya, Kek. Gunung Tidar sudah bicara padaku. Dan aku akan menuliskan ceritanya, bukan hanya sebagai cerita hantu, tapi sebagai cerita tentang kekuatan karakter dan jati diri.”

Sejak hari itu, mata Bima tidak lagi hanya tajam, tapi juga penuh wibawa. Ia menjadi pemuda yang tangguh, modern namun tetap berakar kuat pada budayanya, persis seperti Gunung Tidar yang menjadi penjaga Magelang.

                                                                    Karya : Carrisa,Kinanti,Margareta,Nikko,Rachel dan Steven.

Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?