Skip to Content
Loading...
Admin
Admin
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Gema yang tak boleh padam


Senja turun perlahan di sebuah Desa Sumber. Angin berembus lembut membawa suara gamelan yang lirih terdengar indah, tetapi juga terasa sepi. Di pendopo tua itu, hanya satu orang yang masih setia memainkan setiap nada.


Namanya Mbah Wiryo.

Dulu, tempat itu selalu ramai. Anak-anak muda duduk bersila, memukul kenong, saron, dan gong dengan penuh semangat. Tawa mereka bercampur dengan irama musik tradisional. Namun kini, semua tinggal kenangan.


Tak jauh dari sana, Damar duduk di teras rumahnya. Tangannya sibuk menggulir layar ponsel. Video demi video ia tonton tanpa henti. Dunia terasa begitu luas di genggamannya, tetapi ironisnya, ia justru semakin jauh dari dunia di sekitarnya.


Mar, tolong antar ini ke rumah Mbah Wiryo,” pinta ibunya. Damar menghela napas. “Kenapa harus aku sih, Bu?” “Karena kamu anak muda. Jangan cuma main HP terus.” Dengan malas, Damar akhirnya berangkat.

Sesampainya di pendopo, ia berhenti sejenak. Suara gamelan itu… berbeda dari musik yang biasa ia dengar. Ada sesuatu yang menyentuh, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Mbah, ini dari Ibu,” katanya singkat.


Mbah Wiryo tersenyum hangat. “Matur nuwun, Le. Duduk dulu, dengarkan sebentar.”

Damar awalnya ingin menolak, tapi entah kenapa ia menurut. Ia duduk di sudut pendopo, memperhatikan tangan renta itu memainkan gamelan dengan penuh penghayatan.


Dulu,” ujar Mbah Wiryo pelan, “tempat ini selalu penuh. Sekarang… tinggal suara ini yang tersisa.” Damar terdiam.

Kalau tidak ada yang melanjutkan, budaya ini bisa hilang,” lanjut Mbah Wiryo. “Padahal, ini bukan sekadar musik. Ini cerita… ini jati diri kita.”


Kata-kata itu menancap dalam hati Damar.



Malamnya, untuk pertama kalinya, ia tidak langsung membuka hiburan seperti biasa. Ia justru memikirkan suara gamelan tadi. Ia membuka kembali ponselnya—kali ini dengan tujuan berbeda.


Bagaimana kalau…?”

Keesokan harinya, Damar kembali ke pendopo. “Mbah, boleh saya rekam?” tanyanya.

Sejak saat itu, sesuatu berubah.

Damar mulai merekam setiap kegiatan budaya di desanya. Ia membuat video tentang gamelan, wayang kulit, hingga tradisi kenduri. Tapi ia tidak hanya merekam—ia bercerita. Ia menjelaskan makna di balik setiap budaya dengan cara yang sederhana dan menarik.


Ia mengedit video dengan musik latar modern tanpa menghilangkan keaslian. Ia menambahkan teks, cerita, bahkan sedikit humor agar mudah dipahami anak muda.


Video pertamanya sepi.

Video keduanya… masih sepi. Namun Damar tidak berhenti.

Hingga suatu hari, salah satu videonya tiba-tiba viral. Komentar berdatangan.

Baru tahu kalau budaya Jawa sekeren ini!” “Aku jadi kangen kampung halaman…” “Boleh belajar di sana?”

Damar terkejut. Tapi yang lebih mengejutkan adalah perubahan yang terjadi di desanya.

Pendopo Mbah Wiryo yang dulu sunyi kini kembali hidup. Anak-anak muda berdatangan, bukan hanya dari desa itu, tapi juga dari luar daerah. Mereka ingin belajar, ingin merasakan, ingin menjadi bagian dari budaya yang hampir hilang itu.

Suara gamelan kembali menggema—kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Suatu sore, Mbah Wiryo memandang Damar dengan mata berkaca-kaca.

Kamu tidak hanya merekam suara, Le,” katanya lirih. “Kamu menghidupkannya kembali.” Damar tersenyum kecil. “Saya cuma memanfaatkan apa yang saya punya, Mbah.”

Ia menatap ponselnya.

Dulu, benda itu hanya menjadi alat hiburan. Kini, menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Dan Damar sadar, budaya tidak harus kalah oleh zaman. Ia hanya perlu cara baru untuk tetap bersuara.


                                                                    Karya Adel, Ayun, Gabie, Marchel, Nuna dan Yoga


Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?